Ads 468x60px

KAB. ASAHAN, TANJUNG BALAI, PEMATANG SIANTAR, KAB. SIMALUNGUN, KAB. PAKPAK BARAT, KAB. DAIRI, KAB. KARO. KAB. BINJAI, KAB. LANGKAT, KAB. BATUBARA

Friday, January 17, 2014

Melatih Anak Untuk Jujur


Masih ingat dengan pepatah “Jujur, adalah mata uang yang berlaku dimanapun”, ya, kejujuran merupakan dasar dari komunikasi yang efektif dan hubungan yang sehat, hal ini berlaku baik untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Terkadang tanpa kita sadari kita secara tidak langsung telah memperkenalkan “budaya” bohong atau tidak jujur kepada anak-anak, misalnya orang tua terbiasa berkata bohong, maka akan sangat mungkin kebiasaan ini menurun pada anak-anaknya.

Saat umur 2-5 tahunan biasanya anak-anak berbohong karena belum bisa membedakan antara kenyataan dan khayalannya. Kemudian ketika anak menginjak umur 7-8 tahun, alasan mereka berbohong karena takut menerima hukuman dari orang tuanya ketika ia melakukan kesalahan. Sedangkan ketika mulai menginjak usia remaja, kebohongan dilakukan untuk melindungi privasi atau menghindari kebingungan.

Manfaat menanamkan nilai kejujuran sejak dini akan membentuk karakter positif pada anak dan kejujuran akan menjadi pakaian yang melekat hingga ia tumbuh dewasa. Kemudian ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, karena kejujuran membutuhkan keberanian.

Anak adalah pribadi yang bersih, peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan luar dan merupakan peniru ulung. Dengan demikian, masa paling ideal memperkenalkan kejujuran dan nilai-nilai positif adalah sejak masa kanak-kanak. Berikut ada beberapa tips untuk membiasakan si kecil bersikap jujur:
1. Mulai dari diri sendiri 
Cara paling baik untuk melatih kejujuran pada anak, maka harus dimulai dari diri Anda sebagai orang tuanya. Contoh paling sederhana adalah ketika Anda tidak bisa menepati janji pada si kecil, maka sebaiknya terangkan dan minta maaflah pada si kecil. Atau jika Anda kedapatan berbohong tentang sesuatu sama si kecil, segeralah meminta maaf dan jelaskan mengapa Anda harus berbohong.

2. Tunjukkan kekecewaan dengan wajar

Jika Anda mendapati dia berbohong, maka tunjukanlah kekecewaan Anda dengan wajar. Jangan langsung menghukum sebelum Anda menanyakan sebab mengapa dia berbohong. Karena hukuman yang keras tidak akan membuatnya berhenti berbohong, malah hanya akan membuat ia merasa takut untuk berkata jujur ketika ia melakukan hal yang “salah” dimata orangtua-nya.

3. Bekali dengan kekayaan spiritual

Anda juga bisa memperkenalkan si kecil pada konsep kepercayaan pada Tuhan sejak dini, misalnya Anda bisa mengajarkan bahwa “Tuhan itu tidak menyukai perbuatan tercela atau tidak terpuji dan berbohong adalah salah satu perbuatan yang tidak terpuji dimata Tuhan”.

4. Sampaikan kebenaran dengan bijak
Sampaikan kebenaran secara bijak, dan sesuaikanlah dengan umurnya. Misalnya ketika masih balita sampaikan nilai kejujuran melalui dongeng anak – anak bertema kejujuran.

5. Hargai kejujuran
Ketika ia melakukan kesalahan, kemudian ia mengakui kesalahannya pada Anda, janganlah Anda memarahi atau menghukum secara berlebihan. Hargailah anak yang telah berani berkata jujur dan berikan nasehat agar dia tidak mengulanginya di kemudian hari.


Orang tua adalah sosok yang memegang peranan utama dalam keluarga untuk mengajarkan serta menanamkan nilai kejujuran pada anak-anak. Sedangkan, guru atau sekolah memegang peran kedua untuk mengembangkan nilai kejujuran & nilai-nilai positif lainnya sejak anak usia dini. Maka, penanaman nilai kejujuran akan berhasil jika dimulai dari diri kita sendiri, para orangtua, sebagai pemegang peran utama.

[Silahkan di share/bagikan sebanyak banyaknya]

0 comments:

Post a Comment