Friday, January 17, 2014
SERBA - SERBI ALAM DEMOKRASI DI TANAH AIR JELANG APRIL 2014.
Tag
JUNIMART
SERBA-SERBI
Istilah "Wani Piro" awalnya asing di telinga, namun semakin sering diungkapkan akhirnya saya coba cari maknanya. Setelah mengerti, akhirnya dengan mulut setengah monyong, saya berucap, "Ooo itu tokh artinya...". Dan agaknya, menjelang April 2014, istilah ini semakin gencar digemakan, yang kalau meminjam istilah lain, "ingot-ingot". Mungkin tidak sama persis, tapi isi dan maksudnya tidak jauh beda.
Mari tinggalkan sejenak istilah "Wani Piro atau Ingot-ingot". Bukan sebuah kebetulan kalau di depan rumah, berdiri dengan gagah Baliho Ketua DPP Bidang Hukum Partai PDIP. Pengalaman sebelumnya, ada seorang teman dari partai lain, yang dengan suka rela memberi tumpangan mobilnya, ketika saya hendak menuju suatu tempat, yang arahnya sama dengan tujuan yang akan ia tempuh. Tetapi setelah Baliho Putri Proklamator bersama Calegnya berdiri di depan rumah, jangankan menumpang, bertegur sapa-pun sepertinya sudah menjadi dosa baginya. Tapi, syukurlah menjelang Natalan lalu, si Calon kembali mencair dan bersedia berteman, bahkan berkirim sms Selamat Natal, walau di pilihan barangkali kita akan terus berseberangan kalau tidak ingin disebut berperang.
Agaknya tidak ingin membiarkan Baliho Merah Membara kedinginan sendiri, kira-kira 5 meter di sebelahnya berdiri baliho lain, yang berwarna keemasan. Tepatnya di depan rumah tetangga. Setiap kali mobil merah keluar dan masuk pekarangan, baliho kuning keemasan seakan berucap, "Selama Jalan dan Selamat Datang". Dosa sich tidak, tapi mungkin aroma persaingan akan semakin kental.
Secara pribadi, berdirinya 2 baliho yang berseberangan partai di depan rumah, tidak akan pernah mengusik pilihan yang sudah ditetapkan dalam hati. Khusus untuk ini, tak perlu diposting terang-terangan, yang pasti meminjam istilah Simalungun, "Dohor hasoman partubuh, dohoran do hasoman sahundulan, tapi orodan do hasoman na sapangahapan. Porini pe lang ididah mata, uhur domma marsiarusan". Namun, seiring dekatnya "Waktu Perang", trend baliho berbeda warna, akan semakin banyak ditebar, bahkan tidak tertutup kemungkinan saling tutup. Untunglah, garangnya Warna Merah, belum ada yang menutupi, lagipula berdirinya di kompleks properti, bukan di area publik.
Kembali ke topik awal soal istilah "Wani Piro alias Ingot-ingot". Bertebarannya baliho berbeda warna dan corak, mengingatkan saya pengalaman belanja di Super Market, dengan konsep One Stop Shoping. Aneka pilihan rasa, warna, produk ditawarkan, dengan harga yang saling bersaing. Tidak jarang dengan alasan kantong cekak, orang membeli produk nomor 2 atau 3, sekalipun kualitas barangkali dapat diukur. Dan inilah budaya ke-Timur-an kita, yang juga mewabah menjelang Pesta Demokrasi 2014. Kadang miris melihat, bagaimana voters menggadaikan suara, kalau tidak mau tersinggung disebut "harga diri" demi memilih calon tertentu. Kalau demikian, kapan rakyat menikmati kejujuran, keadilan dan kedamaian, bila ongkos politik terlalu mahal?. Bukahkah ini akan menimbulkan godaan, bila kelak duduk, Calon akan lupa berdiri, sebab ia harus membereskan tunggakan "Kartu Kredit" yang terlanjur digesek, sebelum terpilih?.
Ketika bertemu dengan salah seorang Jemaat, yang bersedia menjadi Anggota TR JnR, saya mengingatkan, "Jangan terlalu banyak mengobral janji, jaga sikap dan kata, sebab orang yang kita usung adalah salah seorang Pakar Hukum. Sedikit promosi, kasus-kasus Gereja yang "Beliau" bela dan menangkan, sampai tingkat PTUN bahkan MA, si "kawan" mulai sedikit mengerti. Plus gerakan kemanusiaan ; Operasi Bibir Sumbing, Pembagian Kursi Roda, dll. seakan membuat si kawan lebih mengerti. Tentu saya tidak promosi asal-asalan, sebab sembari melihat, kiprah Beliau juga saya ikuti lewat Media. Apalagi kasus pertama, sebagai pembaca setia Majalah Rohani Bahana, kisah tersebut diberitakan besar-besaran di sana, beberapa tahun lalu. Jadi, jangan sampai kata, perbuatan dan sikap kita, mencerminkan ketidaktahuan dan ketidaktaatan kita kepada hukum. Bila sudah mantap mendukung, silakan tentukan pilihan, kabarkan kepada sanak dan keluarga. Berbeda pilihan bukanlah dosa, tetapi mari pilih yang kualitasnya di atas rata-rata, agar tidak berlebihan untuk menyebut "Kualitas Terbaik". Mungkin ajakan seperti ini akan dianggap kuno di zaman "Wani Piro" yang sedang mewabah, tetapi sesuai dengan Slogan "Beliau" Jujur, Smart dan Berani, mungkin kini saatnya kata-kata ini diuji dan butuh pembuktian.
Salam Indonesia Hebat!...
Copas dari Junimart Group by : Hendra Jani Girsang
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





0 comments:
Post a Comment